game theory dalam ujian

mengapa kerja sama saat tes justru merugikan semua orang

game theory dalam ujian
I

Pernahkah kita berada di tengah ruangan ujian yang hening, lalu tiba-tiba terdengar suara bisikan pelan dari meja sebelah? Teman baik kita mencondongkan tubuhnya. Wajahnya panik. Ia meminta jawaban untuk soal nomor tujuh. Di momen seperti ini, insting pertama kita biasanya adalah rasa empati. Kita ingin membantu. Kita merasa bahwa membagikan jawaban adalah bentuk solidaritas yang mulia.

Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa bekerja sama selalu membuahkan hasil yang lebih baik. Ada semacam kebanggaan kolektif saat satu kelas berhasil "mengakali" ujian. Kita merasa sedang melawan sistem bersama-sama. Namun, bagaimana jika sains punya pandangan yang sama sekali berbeda?

Bagaimana jika saya katakan bahwa secara matematis dan psikologis, kerja sama saat ujian justru adalah sebuah jebakan? Niat hati ingin menyelamatkan teman, tapi tanpa sadar, kita sedang menghancurkan peluang semua orang di ruangan tersebut. Mari kita bedah ilusi solidaritas ini.

II

Untuk memahami mengapa hal ini terjadi, kita harus mundur sejenak ke dekade 1950-an. Pada masa itu, para ahli matematika dan ekonom sedang keranjingan mempelajari Game Theory atau Teori Permainan. Jangan tertipu oleh namanya. Teori ini bukan membahas cara memenangkan catur atau monopoli. Ini adalah cabang ilmu pasti yang menganalisis bagaimana manusia mengambil keputusan strategis saat nasib mereka bergantung pada keputusan orang lain.

Game Theory sangat populer di era Perang Dingin. Militer menggunakannya untuk menebak kapan musuh akan menekan tombol nuklir. Psikolog menggunakannya untuk memahami sifat egois manusia. Dan ternyata, ruang kelas saat ujian berlangsung adalah salah satu laboratorium Game Theory yang paling sempurna di dunia nyata.

Dalam teori ini, ada konsep dasar yang harus kita pahami: sistem insentif. Ujian sekolah atau kampus pada dasarnya diciptakan sebagai sebuah sistem filter. Guru atau dosen tidak hanya ingin tahu apakah kita pintar. Mereka ingin memetakan siapa yang paling menguasai materi dibanding yang lain. Ujian adalah tentang distribusi nilai. Lalu, apa yang terjadi ketika kita memasukkan variabel "menyontek berjamaah" ke dalam ekosistem yang rapuh ini?

III

Mari kita lakukan sebuah eksperimen pikiran bersama-sama. Bayangkan satu kelas bersepakat untuk saling bekerja sama. Si A jago matematika, si B jago sejarah. Mereka saling bertukar jawaban. Tujuannya terdengar utopis: semua orang harus lulus dengan nilai A.

Skenario ini terlihat seperti win-win solution. Tapi, ilmu sains benci dengan sesuatu yang terlihat terlalu sempurna. Di dalam otak kita, muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik. Jika semua orang di kelas mendapatkan nilai 95, apakah nilai 95 itu masih berharga?

Lalu, apa respons dari pembuat ujian (guru atau dosen) ketika melihat grafik nilai yang mendadak tidak masuk akal ini? Di sinilah keadaan mulai menjadi kacau. Kita akan segera melihat bahwa solidaritas yang kita bangun ternyata memiliki bom waktu. Sebuah bom yang oleh para ahli Game Theory sebut sebagai dilema yang tak terpecahkan.

IV

Inilah realitas kejam dari sains yang meruntuhkan ilusi kita. Dalam Game Theory, situasi ujian ini sangat identik dengan konsep Prisoner’s Dilemma (Dilema Tahanan) dan Tragedy of the Commons (Tragedi Kepemilikan Bersama).

Ketika teman-teman memutuskan untuk saling memberikan sontekan dan seluruh kelas mendapat nilai tinggi, kita sedang memicu inflasi nilai. Jika ujian menggunakan sistem grading on a curve (penilaian kurva normal), nilai rata-rata kelas akan melonjak drastis. Akibatnya, nilai 85 yang tadinya masuk kategori A, kini hanya menjadi nilai C karena standar rata-rata kelas ikut naik. Kerja keras kita menjadi tidak ada harganya.

Lebih buruk lagi, jika dosen menyadari bahwa ujiannya "terlalu mudah" karena semua orang mendapat nilai nyaris sempurna, apa yang akan terjadi di ujian berikutnya? Dosen akan membuat soal yang tingkat kesulitannya berlipat ganda. Sistem akan menyeimbangkan dirinya sendiri dengan cara yang brutal.

Selain itu, kerja sama masal ini mengandalkan rasa saling percaya yang rapuh. Jika ada satu saja orang yang berkhianat—misalnya ia mengambil jawaban teman tapi sengaja menyalahkan beberapa jawabannya sendiri agar tidak ketahuan—maka sistem ini runtuh. Risiko ketahuan menjadi eksponensial. Pada akhirnya, demi menolong satu atau dua orang yang malas belajar, kita mengorbankan standar nilai, menghancurkan kredibilitas kelas, dan menjamin ujian berikutnya akan menjadi neraka bagi semua orang.

V

Saya sangat mengerti mengapa kita melakukannya. Manusia berevolusi sebagai makhluk sosial. Otak kita dirancang untuk membantu anggota kelompok kita bertahan hidup. Menolak memberikan jawaban kepada teman terasa seperti sebuah pengkhianatan emosional. Ada rasa takut dijauhi, takut dicap egois.

Namun, ruang ujian adalah sebuah lingkungan buatan dengan aturan mainnya sendiri. Di dunia nyata, di tempat kerja, atau dalam kehidupan bermasyarakat, kolaborasi adalah kunci utama kesuksesan. Kehidupan nyata adalah permainan positive-sum, di mana kita bisa menang bersama-sama.

Tetapi ujian adalah permainan yang sangat berbeda. Menjaga pandangan tetap pada kertas kita sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan bentuk berpikir kritis tingkat tinggi. Terkadang, menolak untuk bekerja sama dalam situasi yang salah adalah cara paling logis—dan pada akhirnya paling baik—untuk menyelamatkan ekosistem kita dari kehancuran bersama. Paradoksnya, dengan bermain sebagai serigala penyendiri di ruang ujian, kita sebenarnya sedang melindungi teman-teman kita sendiri.